"Aku yakin rumah itu berhantu!" teriak Lli kepada Adi.
Adi adalah sahabat Lili. Mereka berbicara tentang rumah misterius di Jalan Sahabat No 02. Kabarnya, rumah itu selalu mengeluarkan alunan musik setiap orang yang melewatinya. Tetapi, banyak orang mengira bahwa rumah itu memang ada yang tinggal di sana. Bahkan, pemilik rumah itu sering keluar rumah. Tetapi, Lili tetap percaya kalau rumah itu berhantu.
Pada hari Sabtu, Lili pulang sekolah sengaja memilih jalan itu untuk kedua kalinya. Ketika melewatinya, Lili menahan napas dan mulutnya tertutup rapat. Sayangnya, dugaan Lili salah. Ia tidak mendengar apa pun dari rumah itu.
Pada hari Minggu, Adi mengajak Lili bermain. Ketika sedang asyik bermain, Lili memiliki perasaan tidak enak kepada rumah itu lagi. Ia pun mengajak Adi ke rumah itu.
"Sudahlah Li, untuk apa ke sana? Nanti kita kena marah!" tolak Adi.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku saja!" jawab Lili dengan marah. Ketika ia di depan rumah itu sendirian, ia perlahan mendekati rumah itu. Ketika ia sampai di depan pintunya, tiba - tiba lantai yang diinjak Lili terbuka!
"Aaaa, tolong!" kata Lili meminta pertolongan.
Adi yang sudah pulang merasakan kalau Lili sedang dalam bahaya. Tapi ia menghiraukannya. Seketika, Mama Lili berteriak memanggil Lili di seluruh komplek perumahan Serayu. Ketika Adi mendengarnya, Adi yakin bahwa Lili dalam bahaya. Ia pun berangkat dengan sepedanya tanpa memberitahu orang tuanya. Ia pergi ke rumah misterius itu. Ketika sampai, Adi langsung menuju ke depan pintu tetapi,Ketika sampai, Adi langsung menuju ke depan pintu. Tetapi, Adi baru menyadari kalau Lili sudah tidak ada.
Dengan berani, Adi mengetuk pintu rumah itu walau nyalinya sangat kecil. Tapi, untuk sahabatnya, Adi selalu mengorbankan apa saja yang penting sahabatnya selamat.
Ketika pintu rumah itu terbuka, ada seseorang yang bertanya, "Mau apa, Dik?" tanya orang itu lembut.
"Hmm, cari teman, Om. Katanya dia main di dekat sini. Mmm, siapa tahu Om tahu," jawab Adi berani.
"Tidak, tidak ada kok anak yang bermain di sekitar rumah ini. Ayo masuk dulu," tawar Om itu. Ternyata, nama om itu adalah Om Haris.
Ketika memperkenalkan diri, Adi masuk ke rumah itu. Ketika masuk, Adi sangat terkejut karena rumahnya sangat bagus.
"Hmm, Lili mungkin berlebihan. Masak rumah seindah ini dibilang berhantu?" kata Adi dalam hati.
Setelah ditawari minuman dan makanan, Adi pun berani bertanya kepada Om Haris, "Om, apa Om tinggal sendiri di sini?" tanya Adi.
"Tidak, kok. Ada saudara Oom. Tapi, dia bekerja hari ini," jawab Om Haris.
Setelah mengucapkan terima kasih, Adi pun pulang. Ketika baru keluar dari pintu, Adi mendengar sesuatu dari gudang bawah tanah. Segera saja Adi menuju gudang itu. Ketika Adi membuka sedikit pintu gudang itu, Adi terkejut sekali karena isi dari gudang itu adalah alat-alat kimia berbahaya dan ada seseorang yang bekerja di sana.
"Hmm, Lili mungkin benar. Aku harus melaporkan ini ke kantor polisi," kata Adi sambil menutup pintu gudang itu lagi.
Tapi, "Hai Dik, adik lagi apa di sini?" tanya Om Haris. Oh tidak, Adi ketahuan!
"Om, untuk apa semua ini?" tanya Adi.
"Hmm, kamu masih kecil lebih baik kamu saya ikat saja!" kata Om Haris sambil memegang tali dan langsng mengikat Adi.
Adi sudah tidak berdaya. Adi pun dibawa ke suatu tempat didekat gudang. Tempat itu seperti gudang kecil dan ketika Adi dilempar. Di sana, ia bertemu Lili!
"Lili, kenapa kau bisa disini?" tanya Adi.
"Aku, aku, aku, ditangkap ketika ingin masuk rumah itu. Mereka menangkapku dengan membuka lantai rumah mereka menuju gudang ini," jawab Lili gagap.
"Hei! Kalian harus diam! Kalau tidak kalian akan kami siksa!" ancam seseorang di gudang yang berisi alat kimia berbahaya itu.
"Di, apa orang tuaku sedang mencariku?" tanya Lili lesu.
"Penjahat ini beruntung karena orang tuamu sedang ke luar kota 3 hari yang lalu.
Sudah hampir 2 hari mereka di gudang itu dan mereka kelaparan juga orang tua Adi mencari Adi kemana-mana tapi tak ada yang mencurigai rumah itu.
"Li, aku punya rencana," bisik Adi.
"Bagaimana caramu, Di?" tanya Lili.
"Begini, aku alih perhatian penjaga gudang ini sedangkan kau pergi keluar dan cari pertolongan," usul Adi.
"Hmm ngomong, sih, mudah. Bagaimana cara keluar dari penjara ini? Membuka kuncinya saja tidak bisa," keluh Lili.
"Serahkan padaku," kata Adi.
"Hei penjaga! Apa kau tak kasian dengan kami? Kasihlah kami makan atau minum dan akan kubayar kau," teriak Adi.
"Mmm, berapa kau akan membayarku?" tanyanya.
"200 JUTA!" kata Adi.
Siapa yang tidak tergoda dengan 200 juta? Sudah pasti penjaga itu mau dengan membawa makanan yang enak dan minuman yang segar. Ketika penjaga itu membuka penjara agar dapat membawa makanan, Ari berteriak, "LI!"
Dengan segera Lili langsung meloncat-loncat keluar karena hanya tangannya yang terikat sedangkan Adi berusaha menahan penjaga itu dengan badannya.
Ketika sudah mencapai pintu, Lili lalu membuka pintu itu tetapi suasananya bukan seperti kota mereka melainkan seperti hutan belantara yang rimbun dan penuh semak.
"Hah, apa ini sebenarnya?" tanya Lili heran.
"Jadi kau sudah mengetahuinya, ya!" kata seseorang di belakang Lili.
"Ini apa sebenarnya? Dan siapa kau?" tanya Lily.
"Hhh, kau tidak perlu siapa aku," jawab orang dalam jubah itu.
Ketika Lily ingin menyelamatkan Adi, seperti ada yang menarik Lily ke Hutan Belantara Itu. Ketika pintunya tertutup, otomatis, hutan itu menjadi utuh dan Lily tak bisa keluar dari sana.
"Halo Lily lama tak bertemu sejak 3 hari yang lalu." Kata seseorang berjubah itu datang tiba-tiba.
"3 hari yang lalu? Berarti kau adalah.... tak mungkin kau tak mungkin dia!" teriak Lily ketakutan.
"Tak mungkin? Hhh kaukan sudah tahu siapa aku Lily," kata orang itu.
"Tidak mungkin ayah. Kau tak mungkin ayahku kan?" tanya Lily semakin ketakutan.
"Kalau aku ini ayahmu kenapa?" tanya orang itu yang ternyata ayah Lily.
"Apa? Ayah? Kau tak mungkin ayahku!" kata Lily dan kemudian pingsan.
"Hhh rencananya berhasil," kata ayah Lily.
Saat Lily sadar, Lily berada di dalam sebuah rumah yang besar.
"Hah, di mana aku?" tanya Lily. Di sana banyak sekali pintu. Lily coba membuka satu-satu pintu tetapi isinya seperti tanda panah yang menuntun Lily menuju pintu yang besar.
Lily melihat kertas menempel di pintu itu yang berisi, "Untuk membuka pintu ini belok kanan lalu lalui rintangan untuk mengambil kunci berbentuk segitiga. Lily menurut saja dengan petunjuk itu karena ia penasaran ada apa di balik pintu itu. Ketika Lily sudah mematuhi petunjuk itu.
Lily melihat rintangannya sambil berkata, "Ini rumah atau gedung olahraga, sih?"
Karena rintangan itu seperti panjat tebing dan loncat palang. Lily pun berusaha keras untuk melalui rintangan itu.
Setelah melaluinya, Lily melihat 5 kunci segitiga. Lily bingung mau pilih yang mana. Ia pun memutuskan untuk mengambil semua kunci itu dan ia coba satu-satu ke pintu besar itu.
Setelah pintu itu terbuka, "Nak, kau sangat pintar tapi masih banyak rintangan menantimu Lily!" bisik ayah Lily di balik pilar.
Lily kira rintangannya sudah habis tapi ada kertas di depan pintu besar lagi bertulis "Ini baru dimulai, Lily."
Lily mengikuti petunjuk tapi ternyata petunjuknya sama seperti sebelumnya. Ternyata, mencapai 5 pintu! Ketika Lily membuka pintu terakhir, Lily menemukan dunia boneka yaitu seluruh penghuninya boneka tapi tidak hidup. Lily terkejut sekali karena semua boneka disana adalah bonekanya.
Ketika Liy ingin mengambil salah satu boneka terdengar ,"Kau tak boleh mengambilku!" lalu terdengar sekali lagi lalu terdengar lagi sampai 5 kali. Lily yang penasaran kemudian menarik salah satu boneka itu dan lantai pada tempat boneka itu berada terbuka! Segera saja Lily masuk ke dalam.
Oh tidak seperti yang Lily pikir. Ruangannya gelap sekali. Untung dia membawa handphone dan mengaktifkan lampunya. Dari gelapnya ruangan itu, Lily mendengar lagu, "Lily Lily Lily satu dua tiga kenapa kau di sini?"
Lily rasanya mengenal lagu itu dan pernah rasanya pernah dia menyanyikannya. Dari kegelapan itu pun ada yang memegang pundak Lily dan menarik Lily kedalam suatu ruangan yang penuh dengan Kue. Lily bingung tapi seseorang berjubah hitam tiba- tiba muncul dari antara rak roti.
Orang itu terus mendekati Lily. Lily tentu saja takut setengah mati apalagi tiba - tiba orang berjubah itu mengeluarkan pisau. Lily mulai menduga itu ayahnya tapi tak mungkin ayahnya melakukan sampai mau mengahabisinya. Ketika Lily mundur ada seseorang dibelakangnya. Ketika Lily menoleh ke belakang,
"SELAMAT ULANG TAHUN LILY! KAMI SAYANG KAMU!" teriak sekitar 20 orang termasuk orang tua dan teman-temannya.
"Apa! Jadi ini hanya rekayasa?" tanya Lily.
"Tentu, Nak, masa Ayah mau menawanmu di penjara?" kata ayah Lily melepas jubah hitamnya.
"Rencana kami berawal dari kerja sama dengan Paman Haris dan kelompoknya. Kemudian semua tempat itu adalah proyektor dan kegelapan tadi hanya lampu dimatikan lalu rintangan di pintu itu di Wahana Uji Keberanian di Mall. Jadi, sebenarnya tempat kejadiannya di mall bukan di gudang Paman Haris.
Hutan di gudang itu hanya halaman belakang gudang Paman Haris lalu Ayah sengaja membuatmu pingsan dengan berkata kalau ayah penjahat di gudang Paman Haris. Ya jadi inilah hasilnya," jelas Ayah Lily.
"Ternyata kamu penakut juga dan pemberani juga, ya, Li," kata Adi dibelakang Lily yang muncul tiba-tiba.
"ADI! KAMU KETERALUAN! KENAPA TAK KASIH TAHU AKU?" teriak Lily bercanda. Mereka pun merayakan ulang tahun Lily.
Bagaimana teman? Bagus, kan, akhirannya? Hehehe Lily dan Adi titip salam untuk kalian.
</div>