Bagiku, ia sudah seperti saudara. Setiap hari, ia selalu menemaniku begitu juga aku menemaninya. Dia ke kantin, aku pun ikut dengannya begitu pula sebaliknya. Kami sebenarnya sering sekali bertengkar. Walau begitu, besok kami cepat bermaaf-maafan.
Tapi, saat kelas 6, ia keliatannya sudah tidak mempedulikanku. Ia sudah menganggapku seperti teman biasa. Dan aku juga kesal pada sikapnya itu. Aku pernah bilang begini padanya.
"Apa yang salah denganku? Aku selalu menemanimu ke mana saja begitu pula kau! Tapi, apa yang kau perbuat? Kau hanya pengkhianat!"
Sejak aku bilang begitu, aku sudah tidak dekat lagi dengannya. Aku dekat pada Opik dan Ancha saja. Tapi, mereka berusaha membujukku untuk memaafkan Yolan, tapi aku bilang, "Untuk apa memaafkannya? Ia hanya pengganggu!"
Opik pun membalas ucapanku.
"Walau ia begitu, berusahalah untuk memaafkannya."
Aku tetap menolak dan akhirnya pergi begitu saja dengan sangat kesal.
Waktu cepat sekali berlalu, detik demi detik berlalu, dan menit demi menit sudah berlalu. Ini saatnya perpisahan, saat paling sedih padaku. Aku sudah merasa bersalah pada Yolan. Ketika perpisahan, aku membisikkan.
"Maafkan aku, aku memang bodoh berkata seperti dulu. Bye, My.... Fr.....iend ." Tak sengaja, aku meneteskan air mata kesedihan.
Tidak kusadari, Yolan juga begitu! Ia pun membalas, "Ya, aku sudah....memaafkanmu...juga....A....Ri...."
Kami berdua menangis dengan perasaan bersalah. Tapi, tak kusangka, ketika bersalaman, tangannya menjadi lemas dan badannya terjatuh. Ternyata, Yolan sudah....
Kami, berziarah ke makamnya saat sesudah perpisahan. Nyawanya tak bisa ditolong lagi. Aku masih ingat kata-katanya sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.
"Kau adalah sahabat terbaikku di dunia sepanjang aku hidup."
Aku sangat menyesal telah membentaknya saat itu.
Sekarang, aku sudah bekerja di sebuah rumah sakit. Ya, aku menjadi seorang dokter. Setiap aku menerima pasien, aku selalu ingat kata-katanya yang terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar