Tahukah kalian siapa nama anak yang paling sok tahu di kelasku?
Namanya adalah Jureta. Jureta anaknya memang sok tahu walau ia tak tahu.
Aku pernah mencobanya.
"Ta, kamu tahu gak, Bu Titi juara 1 dalam lomba mengarang!"
"Aku tahu, kok! Huu, ketinggalan zaman!" jawabnya.
"Emang kamu tahu dari mana?" tanyaku.
"Hhh, akukan banyak mata-mata," jawabnya.
Hari ini Ulangan IPS, soalnya 10. Tapi, soal nomor 3 aku sudah tak tahu dan aku bertanya pada Jureta.
"Ta, kamu tahu jawaban nomor 3?"
"Aku tahu dong! Masa aku gak tahu. Aku kan rajin belajar. Aku saja belajar hampir setiap waktu," cerewet Jureta.
"Hmm, cerewetannya muncul lagi," bisikku dalam hati.
Ketika hasil ulangan IPS dibagikan, aku mendapat 90! Begitu juga Jureta.
"Ta, kamu salah nomor berapa?" tanyaku.
"Aku ee salah nomor 6," jawabnya gagap.
"Iya no 6 dikurang 3," bisikku dalam hati ketika melihat sekilas kertas Jureta.
Pada hari Selasa, kami menanam biji jagung di halaman sekolah. Ketika guru kami menjelaskan, Jureta hanya bermain-main dengan tangannya.
"Ta, dengarkan penjelasan guru," tegurku.
"Ahh, ngapain, aku tahu, kok," jawabnya santai. Ketika saatnya menanam jagung, aku melihat Jureta sambil menegur, "Ta, cara menanamnya bukan begitu tapi begini," tegurku sambil membantuya.
"Aku tahu, kok, cuman lupa," jawabnya. Setelah itu, kami pun memberinya pupuk dan lagi-lagi Jureta salah.
"Ta, dosisnya kelebihan, tuh!" tegurku lagi.
"Ya, aku tahu cuma lupa, kok," jawabnya lagi. Setelah menebar pupuk dan menyiramnya, Guru kami menyuruh kami untuk mempraktekannya kembali dan yang pertama dipanggil adalah Jureta.
Jureta maju ke depan dengan langkah yang gagah.
"Jureta, coba kamu praktekkan pola menanam tumpang sari," suruh Guru.
Jureta kebingungan sekali karena ia tidak memperhatikan ketika penjelasan guru. Ia pun melakukan apa yang dia bisa dan, "Jureta, itu pola menanam campuran bukan tumpang sari," tegur Guru.
Sebagai hukumannya, Jureta harus membuang sampah satu komplek sekolah itu.
"Er, aku tadi salah saat praktek," adu Jureta padaku saat selesai.
"Aku tahu, kok," jawabku. Jureta pun minta maaf atas kesombongannya selama ini. Kami pun berkata secara bersamaan, "Aku tahu, kok."
"Ta, kamu tahu gak, Bu Titi juara 1 dalam lomba mengarang!"
"Aku tahu, kok! Huu, ketinggalan zaman!" jawabnya.
"Emang kamu tahu dari mana?" tanyaku.
"Hhh, akukan banyak mata-mata," jawabnya.
Hari ini Ulangan IPS, soalnya 10. Tapi, soal nomor 3 aku sudah tak tahu dan aku bertanya pada Jureta.
"Ta, kamu tahu jawaban nomor 3?"
"Aku tahu dong! Masa aku gak tahu. Aku kan rajin belajar. Aku saja belajar hampir setiap waktu," cerewet Jureta.
"Hmm, cerewetannya muncul lagi," bisikku dalam hati.
Ketika hasil ulangan IPS dibagikan, aku mendapat 90! Begitu juga Jureta.
"Ta, kamu salah nomor berapa?" tanyaku.
"Aku ee salah nomor 6," jawabnya gagap.
"Iya no 6 dikurang 3," bisikku dalam hati ketika melihat sekilas kertas Jureta.
Pada hari Selasa, kami menanam biji jagung di halaman sekolah. Ketika guru kami menjelaskan, Jureta hanya bermain-main dengan tangannya.
"Ta, dengarkan penjelasan guru," tegurku.
"Ahh, ngapain, aku tahu, kok," jawabnya santai. Ketika saatnya menanam jagung, aku melihat Jureta sambil menegur, "Ta, cara menanamnya bukan begitu tapi begini," tegurku sambil membantuya.
"Aku tahu, kok, cuman lupa," jawabnya. Setelah itu, kami pun memberinya pupuk dan lagi-lagi Jureta salah.
"Ta, dosisnya kelebihan, tuh!" tegurku lagi.
"Ya, aku tahu cuma lupa, kok," jawabnya lagi. Setelah menebar pupuk dan menyiramnya, Guru kami menyuruh kami untuk mempraktekannya kembali dan yang pertama dipanggil adalah Jureta.
Jureta maju ke depan dengan langkah yang gagah.
"Jureta, coba kamu praktekkan pola menanam tumpang sari," suruh Guru.
Jureta kebingungan sekali karena ia tidak memperhatikan ketika penjelasan guru. Ia pun melakukan apa yang dia bisa dan, "Jureta, itu pola menanam campuran bukan tumpang sari," tegur Guru.
Sebagai hukumannya, Jureta harus membuang sampah satu komplek sekolah itu.
"Er, aku tadi salah saat praktek," adu Jureta padaku saat selesai.
"Aku tahu, kok," jawabku. Jureta pun minta maaf atas kesombongannya selama ini. Kami pun berkata secara bersamaan, "Aku tahu, kok."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar